Jumat, 20 Mei 2022

 

AIR MATA LEBARAN

Cerpen Okti Setiyani

 

“Bukan! Itu bukan ledakan kembang api, melainkan ledakan bom yang....”

             

            Wajah-wajah penuh kegembiraan mulai bermunculan saat matahari kembali ke peraduan. Dan  hilal –bulan sabit muda pertama--  telah terlihat. Azan magrib berkumandang. Disusul gema takbir yang menggetarkan jiwa mulai bersahut-sahutan di seluruh penjuru negeri. Suasana haru mengantar kepergian bulan penuh berkah –bulan Ramadan.

Tibalah penghuni bumi menyambut bulan Syawal. Bulan yang identik dengan saling memaafkan, kue-kue lebaran dan pakaian-pakaian yang indah. Tak lupa, suara yang mengagetkan, tetapi membuat langit yang ditaburi bintang seolah lebih hidup untuk sesaat. Ya, itulah ledakan kembang api yang menjadi hal biasa di saat-saat menuju lebaran.   

            Itu bukan cerita lebaranku, melainkan imajinasiku berdasarkan cerita salah seorang relawan yang datang ke pengungsian kami. Jujur saja suasana lebaran di negaranya dan negaraku sangat berbeda, benar-benar berbeda.

            Aku duduk bersandar di sebuah pohon besar berdaun lebat, membuat siapa saja yang duduk di bawahnya merasa nyaman dan sejuk. Pohon itu sudah tua, lebih dari umurku dan umur orang tuaku, mungkin pohon itu adalah sebuah saksi bisu atas kejadian yang sudah terjadi di tanah ini.  

Sejurus kemudian mobil ambulance muncul, memarkir di depan pengungsian yang dihuni lebih dari dua puluh lima orang itu. Pria-pria berjubah putih mulai menuruninya, mataku berbinar melihat seorang pria tinggi berkaca mata – Dokter Rizal. Ya, aku tidak sabar mendengar cerita tentang lebaran di kampungnya yang sejuk dan dikelilingi persawahan. Sangat berbeda dengan keadaan di sini, hanya ada sisa-sisa bangunan yang roboh, ladang yang hancur dan air mata.

            “Wah, pohon ini sejuk sekali....” ujarnya sambil berjalan menghampiriku.

            Aku tertawa dan mengangguk. “Benar sekali....”

            “Apa di negaramu banyak pohon seperti ini?” tanyaku penasaran, pasalnya sangat jarang pohon besar bertahan hidup di sini, selain tidak adanya air yang cukup, pohon besar sering kali terkena serangan bom.

            “Ya, banyak sekali....”

            “Dokter, sekarang coba cerita tentang lebaran....”

            “Baiklah, saat lebaran di kampungku sangat ramai. Keluargaku dari kota akan pulang kampung dan berkumpul di rumahku. Lalu, semua anak-anak muda akan berkumpul dan berjalan-jalan menuju rumah para tetua untuk meminta maaf. Kue-kue lebaran, tape, tempe dan lain sebagainya sudah menjadi hal biasa saat lebaran. Yah, aku jadi rindu dengan suasana di sana sekarang....”

            “Sepertinya tinggal di negaramu sangat nyaman, damai dan menyenangkan.” ujarku dengan rasa perih, pasalnya suasana di negaranya adalah apa yang selama ini negaraku inginkan, kedamaian.

            Pria berjubah puith itu tertawa kecil. “Ya, jujur saja bahwa saat aku berada di sini, aku baru sadar bahwa negaraku sangat damai....”

            Dokter Rizal menoleh padaku. “Apa saat lebaran keluarga-keluarga juga berkumpul?” tanyanya.

            “Ya, tetapi semua keluargaku sudah tiada.”

            Aku ingat beberapa tahun lalu, ketika semua keluargaku pergi dari tempat penuh air mata ini.

            *

            “Ayah…” teriakku saat bom itu jatuh dan meledak tepat di rumahku. Sedangkan aku hanya bisa menyaksikan pemandangan itu, terisak di atas ayunan di samping rumah. Dan tak ingat apa-apa lagi setelah itu. Ya, satu demi satu keluargaku pergi dari tempat yang mengerikan ini.

Sebenarnya aku bahagia dengan kepergian mereka. Bukan bermaksud jahat, melainkan karena mereka sudah bahagia di alam sana. Tidak ketakutan lagi hidup di tempat penuh air mata ini. Aku sebenarnya ingin ikut mereka saja, namun Allah sudah memberikan kesempatan untukku hidup lebih lama. Mungkin Dia ingin aku mencari bekal dahulu sebelum menysul keluargaku. Baiklah!

            Di pengungsian ini, aku bertemu dengan mereka, anak-anak yang senasib sepertiku. Anak-anak yang masih ditakdirkan Allah untuk mencari bekal di dunia, demi menyusul keluarganya ke Surga.

 


Okti Setiyani
, gadis kelahiran 1999 ini adalah seorang guru di salah satu SMP di Kulon Progo. Ia menyukai menulis, membaca dan mengkhayal sejak semester satu perkuliahannya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang ini ia sudah memiliki 2 novel yang berjudul “Touch The Sky” dan “Campus Puzzle”, juga beberapa antologi cerpen dalam kompetisi menulis yang pernah diikutinya. Penulis dapat dihubungi melalui Email oktisetiyani1999@gmail.com dan Instagram @okti_setiyani08

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  K A R Y A     AHMAD MALIKI MASHAR     Suluh Penyuluh   Mulut berbisa mengurut luka Menepuk dada tersuruk bangga Berlulur s...