Pemberitahuan

Laman Sastra-Ku sedang dalam proses perbaikan, mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Namun demikian, karya-karya tetap akan ditampilkan secara rutin.

Minggu, 26 Desember 2021

 

K A R Y A

 

INUNG SETYAMI

 

Lima Cerita Untuk Ibuku

 

1// ibu dan kupu kupu

 

Kupu-kupu yang menyeberang hujan itu

adalah aku, ibu

kini pulang mencari madu

di teduh matamu

sayapku rindu hinggap

di reranting pelukmu

: Sebab aku enggan di koyak jarak

 

2// ibu dan rembulan

Engkau lah rembulan yang tak pernah padam

memberi kehangatan di rongga batinku terdalam

Penerang, saat aku terkepung dalam kegelapan rindu 

tempatku rebah pada segala gelisah

 yang tak sudah sudah

: ibu, engkaulah rembulan dalam langit jiwa yang menyala-nyala

 

3// ibu dan bilangan

Ibu, tulusmu selalu utuh, seutuh bilangan bulat

Tak kan terpecah, seperti bilangan cacah

sayangmu bagaikan bilangan berpangkat,

kasihmu tak terbagi, seperti bilangan prima

: sungguh, cintamu untukku tak terlimitkan!

 

4// ibu dan laut

Ibuku,

Engkaulah laut biru yang terlukis dalam kalbu

Keluasanmu menyimpan keindahan

kembang laut, ikan ikan, dan mutiara yang terpatri dalam jiwa 

Kasihmu padaku bagai pasir di hamparan pesisir

Tak terhitung oleh siapapun

dan rumus apapun

: sebab laut adalah kesabaran dadamu

menampung suka dukaku

 

5// ibu dan doa

Mencintaimu adalah mencintai surgaNya

Kata-katamu adalah pintu yang selalu terbuka

bagi setiap langkah perjalananku

: engkau dan aku serupa simpul mati

yang terajut dalam doa abadi

 

 

Yk. 2021

 

Inung Setyami, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan Kalimantan Utara. Menulis cerpen, esai dan puisi. Menjuarai beberapa lomba sastra. Buku karyanya antara lain: Melankolia Bunga-Bunga (cerpen, 2021), Distikon Rasa (puisi, 2021), Kisah Si Rawit (novel anak, 2021) dan lain-lain.

 

***___*** 

 


EVA NURUL KHASANAH

 

Selamat Datang Desember

 

Sudah terlalu lama?

Mulai dari Tuhan,

apa rencana mu kemudian?

 

Terlalu asik membuatmu terusik?

Jadi pikirkan baik-baik!

Mungkin tidak mudah, atau sebaliknya?

 

Gedung-gedung kosong mulai terisi

lambat laun tanpa tertegun akan mem-baru.

Bisa jadi seperti saat pertama kali.

 

Artinya kau terlahir lagi wahai aku.

Semua yang usang jadi baru

tidak satupun tersisa selama ini, bukan?

Apa yang harus siap?

 

Sidorejo, 01 Desember 2021

 

Eva Nurul Khasanah, lahir tgl 1 Juni 1999, mahasiswi Prodi PBSI Universitas PGRI Yogyakarta (UPY).  Puisi berjudul "105 Kata untuk Mimpi Ku" mendapat juara 3 di Pekan Jurnalistik yang diadakan kampusnya. Karyanya tersiar di sejumlah media online dan antologi bersama diantaranya Kluwung Lukisan Maha Cahaya (2020),  Duhkita ( 2021).   Sekretaris komunitas Sastra-Ku ini tinggal di Sidorejo Lendah Kulonprogo.

 

 ***___***  

 

YUNI SUKARTINAH

 

Realita

 

Mentari begitu murung

Terlindas  mendung

Entah apa yang terjadi

Sungguh ku tak mengerti

              Air hujan bercucuran

              Di bawah teriknya pepanasan

              Entah apa yang terjadi

              Semua menyayat hati

Ku termenung menepi

Di bawah pohon kopi

Tiada sangka petunjuk tuhan

Tuk memberi jawaban

            Bagai besi disulut api

            Semua tak lagi harmoni

            Ku harus menata hati

            Tuk mencari solusi

Ku bersujud di hadapan-Nya

Ikhitiar dan tawakkal tak terlupa

Tuk hadapi realita ini

Yang semakin ku tak mengerti

 

 

Sabtu, 18 Desember 2021

 

MELAWAN MASA LALU

Cerpen Okti Setyani

 

 

“Bekerja keras bukanlah sebuah ungkapan, akan tetapi ialah pembuktian. Cita-cita bukanlah sekedar angan, akan tetapi sebuah tujuan kehidupan.

Di mana saat engkau merasa sendiri dalam dunia yang kejam dan terlalu menyilaukan, di situlah ilmu akan memberikan rasa aman atau setidaknya ia akan memberikanmu perisai dan sebilah pedang untuk bertahan dan payung agar kau tak tersilaukan.”

_Imam Maulana Al-Fatih_


               Jajaran mobil mewah hingga bobrok ada di sini. Mulai dari Range Rover, Rubicon hingga Avanza. Merah, hitam hingga samar-samar warnanya. Aku sudah hafal beragam  merek mobil, motor hingga sepeda. Jika ada kuis menyebutkan lima macam merek mobil atau motor, jelas aku jagonya. Bukan seorang sales, apalagi pemilik rental mobil. Hanya seonggok tulang dengan balutan daging dan otot.

        Kemeja putih dengan dasi merah garis-garis, bersepatu pantofel hitam mengilap, ditambah jas hitam penuh wibawa, tentu hanya akan mengundang gelak tawa. Bahkan bisa jadi aku diangkut petugas berseragam putih-putih rumah sakit jiwa, atau malah viral di media sosial dengan headline ‘Seorang Penjual Koran Di Jogja Mulai Tidak Sehat”.

            Yang berjas almamater biru tua, bersepatu pantofel dan mengendarai motor matik, pastilah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Di sisi lainnya, gadis berjilbab dusty pink berkorsa biru tua dengan lambang bunga kuning berdaun di salah satu lengannya, pastilah mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Dan pria yang mengendarai motor ninja hijau, berkorsa hitam dengan tulisan kapslok di punggung, bertuliskan Gajah Mada University, sudah barang tentu.

              Beruntung!

       Dengan spesialisasi masing-masing rekan-rekanku mulai beraksi sepagi ini, pukul setengah enam. Mulai dari penjual tahu sumedang, gantungan kunci, tongsis dan air mineral, sudah bergerilya mengaduk-aduk jalanan di sepanjang lampu merah. Padahal matahari masih malu-malu, angin masih dingin menerpa, namun jalanan sudah macet. Dikerumuni manusia dengan berbagai tujuan untuk mengisi kehidupannya.

Aku berjalan menuruni trotoar saat lampu lalu lintas berubah merah, kendaraan mulai memadat, mengklakson tak sabar, bahkan ada yang nekat menerobos, tentu saja dengan pertimbangan matang-matang karena tak tampak sesosok pun petugas polisi. Saatnya aku beraksi. “Koran?” ujarku sambil mengangkat satu gulung koran harian Jogja.

Manusia itu berbeda-beda tabiatnya, ada yang tak menganggap, sekadar melirik sekilas, bahkan menutup jendela mobilnya. Apa susahnya sekadar menggeleng sambil tersenyum ramah. Dan tekadku untuk menghentikan warisan kebodohan pada anak cucu sudah bulat. Anakku harus memiliki pendidikan yang tinggi, kehidupan yang berkecukupan, masa depan cerah di dunia dan akhirat. Inilah ikrarku saat jiwa ini benar-benar sudah lelah dengan kebodohan yang membelenggu diri sendiri.

Jalanan menampakkan fatamorgana. Macet semakin menjadi-jadi. Suara klakson memekakan telinga. Sengatan sinar ultraviolet ada pada puncak kejayaannya. Dahaga juga mulai menjajah tenggorokan. Kubuka tas ransel lusuh yang tadi kuletakkan sembarangan di pot tanaman pinggir trotoar. Meraih sebotol air putih yang kubawa dari rumah. Juga sebungkus nasi goreng buatan putriku, sungguh nikmat.

            “Alhamdulillah…” ujarku saat pantat ini menyentuh trotoar, rasanya hangat. Tepat di bawah pohon asam rindang aku melepas lelah yang sudah menghujam tulang. Hanya rasa syukur yang akan menyelamatkan diri dari tikaman rasa ketidakadilan, iri, dengki dan pesimis. Ya, sangatlah tepat. “Madhang sikik Le…” ujarku pada seorang pemuda seusia putriku, tujuh belas tahun, ia berhenti bersekolah dan memutuskan bekerja dengan menjual kerupuk. Sungguh miris hidup ini.

“Nggeh Pak,” jawabnya takzim kemudian berlalu menawarkan barang dagangannya pada para pegguna jalan.

Suara gesekan antara rantai, pedal dan bagian-bagian sepeda yang berkarat mengerumuni telinga. Menjadi alarm bahwa sang tulang punggung sudah kembali ke rumah. Polusi di Jogja sudah mulai menyesakkan, kendaraan dan manusia sudah memadati kota kecil yang terkenal dengan keramahan masyarakatnya. Dengan kayuhan pelan, pertanda sisa tenaga mulai menipis, aku menjadi salah satu pelopor pecinta lingkungan. Tepatnya karena keadaan, himpitan kemiskinan.

Rumah kecil yang berada di gang sempit, diapit rumah bertingkat nan mewah di sampingnya, bercat hijau yang mulai pudar, dan ubinnya retak-retak karena sudah terlalu lama menopang penghuninya yang tak kunjung berkembang. “Assalamu’alaikum…” ujarku sambil menyenderkan sepeda tuaku pada tembok samping rumah.

       Setelah Zahra membukakan pintu, aku duduk di kursi kayu yang tak diplitur, lalu mengibas-ngibaskan topi lusuh untuk menghilangkan panas yang mulai terasa. Kuraih kipas kecil yang berada di bawah meja, kuhidupkan. Suara angin yang berputar masuk ke gendang telinga, memberikan sensasi sejuk hanya dengan mendengarnya. Angin menerpa wajah, leher dan beberapa bagian tubuhku. Cukup nyaman.

         Suara dentingan, tumbukan antara gelas dan sendok membuatku segan untuk beranjak. Tentu saja pertanda air akan datang. Sejurus kemudian seorang gadis berumur tujuh belas tahun, memakai jilbab coklat dan kaos lengan panjang yang tidak jelas warnanya karena pudar, berjalan menuju ruang tamu dengan membawa nampan dengan dua gelas air teh hangat di atasnya. “Niki Pak, diminum dulu…”

           Melihat putriku, Zahra, aku pun teringat akan ikrarku. Sebuah ikrar yang tiba-tiba saja muncul di tengah kemacetan lalu lintas. Saat jiwa benar-benar lelah dengan hidup yang tak kunjung berubah. Saat hati mulai tersayat dengan tabiat. Dan saat aku muak dengan kebodohan yang membutakan. “Nduk, kamu mau lanjut ke mana? UGM opo UIN?” tanyaku santai sambil menyeruput teh manis buatannya.

           Ia tersenyum getir. “Ndak usah, Pak…” ucapnya dengan nada normal, namun aku tahu ada sebuah belati yang seolah menikam gadis itu saat mengatakannya.

           “Lho kok begitu?”

           “Kerja saja, Pak…”

         “Nduk, lihatlah Bapakmu ini, mau jadi apa kamu kalo ndak kuliah?” Nada bicaraku mulai meninggi. Aku sangat benci mendengar niat putri semata wayangku yang akan mewarisi kebodohan turun-temurun ini. Kebodohan yang hanya bisa ditumpas dengan mewah nan mahalnya pendidikan.

            Hening sejenak. Gelagatnya yang polos, sifat ceria, namun suka berdrama seolah baik-baik saja. Padahal aku tahu ia memiliki api yang berkobar di dalam sana, meraung-raung haus pendidikan, meronta-ronta minta diselamatkan. Keadaan memang suka bercanda dengan cita-cita. Mencoba memberi bayang suram akan keinginan kuat. Menghancurkan harapan yang telah lama di pupuk. Menghempas niat yang sudah terbangun kokoh dari awal. Tak akan kubiarkan putriku senasib denganku, manusia yang dikungkung kebodohan karena keterbatasan.

           Memang benar, aku seorang ayah yang berpenghasilan pas-pasan. Kerja mati-matian demi memenuhi kebutuhan, bahkan terkadang tetap saja kurang. “Nduk, ndak usah berpikir aneh-aneh, rezeki Allah yang ngatur, insyaallaah Bapakmu kuat nguliahin kamu…” ujarku sambil menatapnya dengan tegas. Mencoba menyalurkan tekad kuat.

      “Bapak, kuliah iku mahal …” Seolah tertonjok oleh kenyataan. Namun dinding pertahananku terlalu kokoh hanya untuk ditabrak oleh masalah ekonomi, hal biasa bagi manusia.

***

           Dan seperti roda yang berputar. Setelah kesulitan, pastilah ada kemudahan. Kulirik gadis ayu berjilbab di jok sampingku, seorang dosen yang berpendidikan tinggi, Zahra. Sudah kubilang bahwa hidup memang suka bercanda, bukan?

Kuturunkan jendela mobil, pantulan cahaya langsung menerpa. Wajah Jogja sudah berbeda, lebih moderen dan panas, sumpek. Namun mereka: tukang koran, minuman, gantungan kunci dan lainnya, masih bertahan. Karena alasan yang sederhana, yaitu perjuangannya di masa lalu kurang keras. Saat aku berjualan koran di siang hari dan membuat kerajinan di malam hari demi memperjuangkan pendidikan putriku, mereka terlalu santai. Bahkan mengabaikan pendidikan yang memang harus dibayar mahal.

“Koran, Pak…” ujarku sambil melambai-lambaikan tangan pada seorang pria paruh baya, tukang koran yang berlalu lalang menawarkan koran di depan sana. “Berapa Pak?” tanyaku lagi saat ia mendekat.

            “Lima ribu,” ujarnya ngos-ngosan sambil sesekali menyeka keringat yang berlinangan di wajahnya. “Mau yang apa Pak?” Ia menunjukkan berbagai jenis koran yang tersampir di lengan kecoklatan nan keriputnya.

            “Kompas saja…”

         Seorang mantan penjual koran membeli koran. Hidup memang lucu. Suka bercanda dengan segala kesulitannya. Membayang-bayangi dengan kegelapan yang menakutkan, padahal kalau saja optimis dan terus berjalan, ternyata bayangan gelap itu membahagiakan.  

         Dulu aku melihat manusia yang duduk di mobil mewah adalah mereka yang beruntung, sedangkan aku tidak. Namun sekarang aku melihat mereka sebagai orang yang telah berhasil merayu Tuhannya dengan doa dan kerja keras tiada terkira. Perjuangan kami tidak mudah, air mata dan keringat darah haruslah tumpah. Makan sekali sehari, hingga makan berlauk garam, pernah kami lalui. Zahra juga membantu perekonomian dengan berjualan makanan di kampusnya. Saat malam Minggu berjualan bunga di Malioboro. Dan sesekali membantuku berjualan koran.

Rasa syukur dan huznuzan-lah penguat langkah kami melalui semua ini. Dan dengan terus-menerus merayu Sang Khaliq, menggodanya dengan melangitkan bertubi-tubi doa nan kerja keras.


Okti Setiyani, lahir 22 tahun yang lalu dan saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga. Hobinya menulis, membaca, memukul, menendang dan mengkhayal. Ia merupakan ketua Komunitas Pena Indonesia, Duta Nasional Mahasiswa Inspiratif DIY dan kiprahnya di dunia literasi menghasilkan novel solo juga beberapa antologi cerpen. Masih kepo dengan manusia yang satu ini? Penulis dapat dihubungi melalui instagram @okti_setiyani08 atau email oktisetiyani1999@gmail.com.

 


Sabtu, 11 Desember 2021

K A R Y A

 

MARJUDDIN SUAEB

 

Simpati Empati Semeru.

 

erupsi. Baru batuknya belum ledak

Langit gosong udara nafaskan gelisah

Allahu akbar slamet nyuwun minta slamat

Allahu akbar malam jadi malam

 

Minggir minggir...ati ati hati hati

Ngungsi o relawan O Relawan dengan R.

huruf besar..  di mana kau..

Bau belerang jiwa separuh lari

 

Abu di mata abu di rambut

O alaah  bukan itu tapi melepuh

Bukan bau belerang tapi aroma daging

bakar. Oh kaki tangan..melepuh mata..

 

Gusti aku kian tahu kau

Gusti kau kian lambaikan

Kemari kemari padaku

Pasrah tawakalilah ummatku.

 

rumah seisi. Kutinggal ngungsi..

Dunia tinggalkan tapi belum mati

Sodaraku melepuh... ingin saja

menengok rumah terpendam pasir

 

siapa mateng terbakar. Tinggal dengar

kabar. Kabar tergetar  di sela gelegar

O gelegar lagi Allahu akbar  

Komat kamit lupa lapar...

 

erupsi. Lagi batuk belum ledak

Baru Semeru belum bumi

Di mana ke mana ngungsi

Kecuali padamu Gusti.

 

Semula sungai. Kini lumpur api

Barangkali jasad simbah terlarut

Kerna saat semua lari

Tak ada yang tahu ke mana..Gusti.

 

Yk. 2021

 

Marjudin Suaeb, adalah nama pena dari Marjudin Muhammad Jalal Sayuthi. Pendidikan terakhirnya di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY). Jebolan Persada Studi Klub (PSK) asuhan Umbu Landu Paranggi ini tulisannya dimuat sejumlah koran Jogja Semarang, Jakarta. Sering baca puisi dari kampung ke kampung, dari kampus ke kampus. Namanya tercatat di buku  Apa Siapa Penyair Indonesia (2017). Menjadi narasumber berbagai kegiatan sastra. Buku antologi puisi tunggalnya Bulan Bukit Menoreh (Sabdamedia, 2016) dan Teka Teki Abadi (Tonggak Pustaka, 2021). Puisi lain terkumpul di sejumlah buku antologi diantaranya Gunungan (penyair Insani), Ziarah, Penyair Jogja 3 Generasi, Lima Tujuh Lima, Cermin Akhir Tahun, Parangtritis, Gondomanan, Pendapa taman siswa, Nyanyian Bukit Menoreh,  dan Membaca Hujan di Bulan Purnama (Tembi 2019), Kluwung Lukisan Maha Cahaya ( Sastra-Ku, 2020), Duhkita (Pusaka-Ku, 2021). Geguritannya masuk di buku Tilik Weweisik (Disbud DIY, 2019). Tinggal di Bumirejo Lendah Kulonprogo.

 

***___*** 


AMINATI JUHRIAH

 

Duka

 

Senja pecah mahameru tunduk patuh perintah-Mu

Alam, kamu, aku adalah waktu yang akan pecah sewaktu-waktu

 

Berdoalah untuk memikirkan sekitarmu

Sebelum palung kesunyian paling sunyi bertamu

 

Langit kabarkan duka merapi terluka

Pesan-pesan berceceran bagai buih

Lesapi cawan-cawan anggur fana memabukkan

 

Langit menangis tumpahkan duka merapi terluka

Malam pekat pucat menatap pasi

Perih mengurai beribu lingkar ingkar

 

Buli-bulir nada sembilu kucurkan perasan duka luka

Nyawa tertindih di tanah kemakmuran

 

Akankah pupus sibakkan hikmah tersingkap, tegak zikir kehendak-Nya sadarkan jiwa

 

Tangerang 11 Desember 2021

 

Aminati Juhriah, lahir pada tanggal 30 Agustus. Karyanya berupa cerpen dan puisi tersebar di sejumlah media online , cetak dan buku antologi bersama. Saat ini tinggal di Tangerang, Banten.


***___***


TRIAS TH

 

Membuka Senja

 

Membuka senja kala itu

Langit menyebar biru

Mengabarkan  waktu

Tuk berganti laku dan liku

 

Membuka senja kala itu

Mahameru

Menyembur debu menyebar abu

Membumbung kan pilu

Mengalirkan sendu

 

Membuka senja kala itu

Semeru

Bercerita  keagungan Tuhan

Batu, kerikil, mengganti rinai hujan

Lahar,   pasir mengganti riak air

Seolah menguji keteguhan insani

 

Membuka senja kala itu

Jinggamu hilang

Birumu lenyap

Kelammu datang

Dan malammu memanjang

 

Tapi yakinlah, bahwa

Pagi kan datang penuh harap

Menyinari jiwa jiwa yang gelap

Membalut sayat sayat luka

Mengalir sejukkan dahaga

 

Membuka senja kala itu

KasihNya kan hadir selalu

Dalam suka duka hambaMu

 

Jogja, 5 Des 2021

 

Trias Tuti Hidayanti, akrab dipanggil Trias. Perempuan kelahiran Cilacap 40 tahun yang lalu ini mulai mengenal sastra sejak SD. ketika mendapat tugas mengarang cerita. Kecintaanya pada sastra  seiring kegemarannya membaca buku koleksi perpustakaan sekolah maupun dari majalah yang dibeli dengan menyisihkan uang jajannya. Ketika masuk bangku kuliah di kampus Bulaksumur, ia lebih suka membaca esai-esai politik sesuai  program studi yang diambilnya. Kini kecintaanya pada dunia sastra diasah kembali dengan gabung di komunitas Sastra-Ku. Puisinya masuk dalam antologi bersama Kluwung Lukisan Maha Cahaya(2020) dan Duhkita (2021). Saat ini tinggal di Galur, Kulon Progo.

 

***___***


SITI WAHYUNI

 

Duka Semeru

 

Ya Rabb

Belum usai Kau turunkan wabah

Di muka bumi ini

Di bumi Indonesiaku

 

Ya Rabb

Kau lebihkan volume air hujan

Kau alirkan tidak lagi di jalannya

Kami sudah berduka

 

Banjir dimana-mana

Longsor tanah tak terkira

Angin bukan sepoi lagi berhembus

Dahsyat terasa

 

Ya Rabb

Kini kau letuskan isi perut bumi

Kau lelehkan keluar dari jalurmu

Panas terasa pastinya

 

Ya Rahman

Inikah peringatan-Mu

Akan adanya kiamat

Agar kami teraadar

 

Yaa Rahiim

Ampunilah kesombongan kami

ampunilah kekhilafan kami

Ampunilah dosa-dosa kami

 

Ku lupa bersyukur pada-Mu

Ku lupa bermunajat pada-Mu

Ku lupa berserah diri pada-Mu

Ampunilah Kami Ya Rabb

 

Semeru mengingatkan kami

Duka Semeru

Duka seluruh negeri

Tanda cinta -Mu pada kami

 

Kulon Progo,  Desember 2021

 

 

Siti Wahyuni, SPd, lahir di Kulon Progo, 22 Februari 1976. Alumni UNY (Pendidikan Geografi) dan UT (PGSD). Saat ini mengajar di SD Negeri Percobaan 4. Menulis puisi sejak SMP. Puisinya pernah di muat di buku Duhkita ( Pusaka-Ku, 2021 ). Tinggal di Kedungdowo.

  

Terbaru

Karya Edisi 12 / 25 - 3