Minggu, 19 September 2021

K A R Y A

 

MARJUDIN SUAEB

 

Sepi Bunga

 

 

Adakah kiranya aku kembang membunga

tepat saat sepi menyapa.

 

Kerna aku hanya bunga.

Menjadi atau layu tak kuasa aku

menolak perlakuan itu.

 

Setidaknya, jika tak wangi  liriklah.

Jika tak jadi kenang di potret dalam hati

 

Barangkali kelak bakal menjemput sepi

Dan lalu ada sekilas jalan

seburtir masalah yang menyisipi.

 

Yk, 2021

 

 

Marjudin Suaeb, penyair senior Kulonprogo, alumni UNY (IKIP) Yogyakarta. Sempat berproses bersama para penyair Malioboro Yogya di sejak  1978-an dan sering baca puisi dari kampus ke kampus dan dari kota ke kota.  Buku puisi tunggalnya Teka-Teki Abadi (2021). Kini membina komunitas Sastra-Ku. Tinggal di Bumirejo Lendah Kulonprogo.

 

***----------***

 

 

 

TRI WAHYUNI

 

 

 

Bukan Rongsokan

 

Makin banyak saja pinokio pembohong

dengan syair perubahan menyedihkan

dan suara tangisan

 

Dunia ini panggung memprihatinkan

hampir saja menuju pintu neraka

dan manusia semakin sulit dipahami, katamu

sebab memang sejatinya pengkhianat

diasuh bumi tak mau balas budi

 

Meski Lil Dicky sudah bernyanyi keras

We love the earth

It is our planet

We love the earth

It is our home

 

Tapi tetap saja

matahari datang menyapa

manusia merusak

dan alam mengekspresikan sakit

 

Bumi ini sudah tua

tapi masih saja dibiarkan mengemis

“Bolehkah kalian mengasihani diriku?

Jangan biarkan aku seperti barang rongsokan

tanpa arti”

 

Kulon Progo, 2021

 

 

Tri Wahyuni, mahasiswai UNY Yogyakarta, sekretaris komunitas Sastra-Ku. Menulis puisi sejak SMA, belakangan juga menulis geguritan. Menjuarai berbagai event lomba cipta dan baca puisi. Buku puisi tunggalnya: Hujan Merindu, Sajak Cerita Senja, dan Berlutut di Bawah Kaki Purnama. Karyanya juga tersiar di beberapa buku antologi bersama.

 

 

***----------***

 

 

 

AMBAR SETYAWATI

 

 

Pekat Jiwa

 

Terjaga di pekat malam

Hingga kokok ayam

meneriakkan hari baru

Bulir cahaya merambat pelan

Memberi isyarat akan datang pagi

Mengabarkan hari telah berganti

Rebahku usai sudah

 

Masih ingin terbaring

Masih memeluk lelap

Masih merindukan rahmat kantukMu

untuk menyempurnakan rebah

hingga aku tak cemas menjalani hari

yang bermain di kelopak mata begitu sarat

beban berat bertengger di pundak

 

Ada sesuatu yang hendak Kau sampaikan

Aku terlalu bebal memahami

Tak jua kusentuh air wudhu itu

Tak kurengkuh jua sajadah tengah malam itu..

Dia menungguku..

Air itu merindukan usapan jemariku

Sajadah itu menangis menanti hadirku di sana

 

Cahaya terang samar mengintip

Menguliti legam sang malam

 yang tak sudi lagi menyelimuti bumi..

Iblis terus menahanku..

Memeluk erat bantal hangat

tempat bersandar letih itu.

 

Nyaman mengikuti setiap bisikannya

Meski bisikan itu hendak menjauhkanku dari kemuliaan

Aku tahu pasti rayuannya akan berakhir

dengan gelak tawa yang jauh dari kasih sayang.

Penuh seringai menyala kejam.

 

Tidak..

Kali ini biar aku yang menang.

 

Samigaluh, 4 Agustus 2021

 

 

Ambar Setyawati, lahir di Jakarta, 17 Oktober 1973. Lulusan Sastra Arab Fakultas Sastra UI Jakarta (1995) dan Pendidikan Bahasa Inggris UT Jakarta (2001). Puisinya masuk di beberapa buku antologi bersama. Bendahara komunitas Sastra-Ku ini tinggal di Samigaluh Kulonprogo.

 

***----------***

 

 

 

EW SUPRIHATIN

 

 

 

Tanpamu

 

 

Gegara kamu aku jadi luka

Ambisimu terlalu menggelora

Hingga lupa siapa yang harusnya kau jaga

Saatnya tiba kau biarkan semuanya mati sia-sia

 

Andai memang ini yang kau inginkan

Akupun demikian

Namun  pikiran selalu terbayang

Elang saja selalu rindu untuk pulang

 

Meski miskin makna

Ada ajar setelah  cerita

Tuhan pula tunjukkan kuasanya

Tanpamu nyata jadi lebih bisa

 

 

Omah Iwak,27 april 2021

 

 

EW Suprihatin, lahir di Sleman 15 April 1979. Pustakawan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulonprogo ini aktif di kegiatan pengembangan literasi, juga masih merawat hobinya membaca dan menulis. Sejumlah karyanya masuk di buku antologi bersama: Kluwung Lukisan Maha Cahaya (2020) dan Duhklita (2021).


***----------***

 

 

========

Sebagai ruang persemaian, edisi kali ini laman Sastra-Ku juga memuat puisi karya peserta bimtek cipta puisi yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo pada bulan Maret lalu dan kiriman siswa lainnya.

========

 

AGUSTINA PRATAMA PUTRI

 

Lestari

 

"Bu, rasanya kita tak lagi

bisa panjang hayatnya"

 

Inggit, anakku

tiga belas tahun

Di suatu sore,

kala angkasa menjamu senja

Sehadap dengan sendok dan piring

yang penuh gagasan gila

 

"Kamu simpulkan dari mana itu, Nak?"

 

Ia tak lagi berkutik

Sibuk melahap isi kepala

Yang dirasa penuh kehati-hatian

 

"Kita tak lagi lestari. Alam pelan-pelan mati.

Hidup dalam tragedi, tapi semua tak sadari"

 

Ia kandas, habis akalnya merengkuh bumi

 

"Bu, aku ingin kau dan aku

bernapas panjang"

 


Agustina Pratama Putri
, sekarang duduk di kelas 11 SMAN 1 Girimulyo.  Tinggal di Tegalsari, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo.

 

 

***----------***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  K A R Y A     AHMAD MALIKI MASHAR     Suluh Penyuluh   Mulut berbisa mengurut luka Menepuk dada tersuruk bangga Berlulur s...