Jumat, 10 September 2021

K A R Y A

 

S e r u n i

Cerpen Inung Setyami

 

Tak ada yang menduga, kembang desa itu kini gila. Tertawa di jalanan, marah-marah dengan berbagai umpatan, kadang menangis sesenggukan persis anak kecil yang minta dibelikan mainan. Kini ia jadi bahan ejekan dan tertawaan anak-anak. Seruni, nama gadis itu. Nama yang indah, seindah wajahnya. 

Seruni memang sudah tidak waras lagi namun kecantikan wajahnya masih tersisa. Tubuhnya masih menawarkan kemolekan yang mampu mengundang birahi lelaki. Ia memang sudah tidak lagi memperhatikan dandanan, tidak mandi, rambut panjangnya dibiarkan tergerai tak pernah disisir, dan berpakaian penuh tambalan di sana-sini. Itupun hanya pakaian pemberian seorang ibu yang kasihan melihatnya telanjang di jalanan, lari kesana kemari tanpa tujuan. Memang, Seruni belum lama terganggu kejiwaannya. Ia gila  akibat telah mengalamai kekecewaan batin yang sangat dalam. Ia tak lagi mampu berfikir jernih sehingga tak memiliki rasa malu mencopoti seluruh kain yang menutupi tubuhnya.   

Sebelumnya, Seruni gadis pujaan. Banyak lelaki yang menaruh hati kepadanya. Pacarnya berganti-ganti, sebulan bisa sampai tiga kali. Nyambung putus nyambung lagi soal biasa. Namun kini, tak satupun lelaki yang bersedia menjadi kekasihnya. Beberapa lelaki hanya suka menggodanya saja. Dalam keadaan tidak waras, rupanya Seruni masih merindukan sosok lelaki. Buktinya kemarin sore Seruni bikin ulah, menghadang Pak Haji di jalan, mendekapnya erat hingga pak haji  ambruk kemudian menungganginya dan menciumnya bertubi-tubi.

“I lop Yu! I lop Yu! I lop Yu Muachh!” Seruni berteriak  keras-keras di telinga Pak Haji.

“Astaghfirulloh. Hentikan Runi!” . 

 “Astaghfirulloh! Cukup! Sadar Runi! Hentikan!” Pak Haji membentak dan Runi menghentikan ciumannya. Ia tahu lelaki di hadapannya sedang marah. Seruni ikut marah, ditamparnya pipi Pak Haji. Pipi kanan dan kiri berkali-kali hingga wajah Pak Haji menoleh ke kanan dan ke kiri berkali-kali pula.

 “Cukup Runi! Hentikan! Ini Pak Haji, Runi.” Teriak Pak Haji.

“Ha ha ha. Plak!” Seruni kembali tertawa terbahak-bahak dan ditamparnya sekali lagi muka Pak Haji kuat-kuat.

Pak Haji mengaduh dan berteriak lalu datanglah orang-orang menolongnya. Seruni tidak lagi menyadari bahwa lelaki di hadapannya adalah Pak haji tetangganya. Guru gajinya dulu waktu kecil. Menurut penglihatannya, lelaki yang dihadapannya itu adalah lelaki yang paling dicintainya sekaligus lelaki yang paling mengecewakannya.

            Ini bukan kali pertama Seruni membuat ulah dan keributan di kampungnya. Beberapa minggu yang lalu ia membuat warga kampung geger. Namun ini bukan sepenuhnya salah Seruni. Latip yang memulai bikin ulah duluan. Seruni memang perempuan gila tapi cantik, namun hanya laki-laki yang tidak normal yang mau menyetubuhi perempuan gila.

Dan latip darahnya naik turun saat melihat gadis gila itu tidur terlentang di gubuk ronda dengan rok sedikit terbuka, memperlihatkan paha kuningnya sedikit saja.  Latip mengendus-endus perlahan, seperi anjing membaui tulang belulang masih segar. Didekatinya Seruni yang masih terlelap. Mata Latip membulat mengamati rok yang tersingkap. Ia tak tahan untuk tak menyentuhnya. Seketika Seruni terkesiap.

Dilihatnya gadis itu hanya diam saja, seperti memberi kesempatan.  Dan Latip mencoba mengelus pipi gadis itu. Seruni tetap diam, tak menolak. Namun ketika tangan Latip hendak bergerilya ke ranum dadanya, gadis itu murka dan memukulkan botol kaca bekas sprit tepat mengenai ubun-ubun Latip hingga memuncratkan darah segar.        

“Aduh! Aduuh! Tolooong.” Teriak Latip. Orang-orang berdatangan menolongnya. Begitulah kondisi Runi. Ia labil. Kadang ia getol ingin menggoda laki-laki kadang ia murka digoda laki-laki.

***

            Wajah Seruni tapa sumringah, ada sinar kebahagiaan terpancar di mata gadis itu. Bagaimana tidak? Dia mendapat pinangan dari lelaki yang paling dicintainya. Perkenalannya belum lama, namun sisi-sisi romantik pada diri lelaki itu yang membuatnya jatuh hati sekaligus cinta mati. Ditambah lagi mengenai cerita-cerita calon suaminya tentang pekerjaan yang digelutinya, sungguh menjajikan kemapanan untuk membangun rumah tangga secara materi dari kini hingga nanti, pikirnya.

Berbeda dengan lelaki-lelaki yang sering menggodanya, bisanya cuma nggombal. Seruni sangat tidak suka itu. Itu bukan lelaki idamannya. Lelaki idamannya adalah lelaki yang perhatian, berpendidikan, mapan, punya pekerjaan, dan tentu tidak selingkuhan.

Sejak pertama bertemu lalu berbincang dengan lelaki itu, Seruni sudah mampu menyukai lelaki itu. Sebelumnya, ia bukan tipikal wanita yang mudah jatuh cinta. Jika selama ini ia punya pacar, itu hanya untuk menanggalkan rasa sepi saja sekaligus jadi tukang jaga dan ojeknya. Menemani dan mengantar kemana-mana.

Maka ketika lelaki idamannya itu menyatakan cinta dan ingin memperistrinya, Seruni menganggukkan kepala. Ia tak peduli walaupun saat itu ia telah memiliki seorang kekasih di kampung tempat tinggalnya. Seruni tak mau ambil pusing atau berpikir lama, ia suka yang instan. Diputuslah pacarnnya dan memulai menjalin hubungan cinta dan merencanakan hidup berumah tangga dengan lelaki idaman itu.

Pernikahan besar digelar. Tamu undangan berdatangan, para tetangga tak satupun yang kelewat untuk ikut berbahagia. Pernikahan Seruni sangat meriah. Bahkan acara pernikahan yang paling mewah di kampungnya. Berbagai hiburan mulai dari sorot atau layar tancap, dangdutan hingga wayangan semalam suntuk ada di sana. Berbagai masakan terhidang di meja, mulai dari masakan tradisional hingga masakan modern yang orang kampung tak tahu namanya.

Biasanya teman-teman sebayanya hanya menikah ala kadarnya saja dan mendapat suami yang biasa-biasa pula. Berbeda dengan pernikahan Seruni kali ini. Orang tua Seruni sengaja membuat pesta untuk pernikahan anak tunggalnya cukup meriah, mereka ingin menunjukkan pada tetangga bahwa calon suami Seruni adalah orang kelas gurameh, tidak hanya kelas gereh. 

Seruni duduk manis, dengan senyum paling manis dan dandanan yang manis pula. Memakai kebaya putih berhias payet bunga-bunga keemasan. Sungguh! Terasa tak berlebihan jika mengatakan bahwa kecantikannya tak kalah dengan kecantikan bidadari. Bidadari yang selendangnya dicuri lelaki saat mandi di kali.  Bidadari  yang menetap di bumi karena tak mampu terbang ke kahyangan lagi. Ya! Kecantikannya tak kalah dengan kecantikan Dewi Nawangwulan.

Mata-mata tak lelah tertuju padanya, pada kecantikan Seruni yang tak biasa. Lima menit ia duduk manis, tebar pesona pada para tetangga yang mengagumi  kecantikan dan dandanannya. Seruni tersanjung dengan celoteh para tetangga, angannya melayang jauh ke awang-awang. Membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Seruni tersenyum sendiri, hatinya begitu bahagia dengan bayangan liar yang diciptakannya. Tak terasa waktu kian menjalar membuat penghulu bertanya keberadaan pengantin pria.

“Calon pengantin prianya mana?” Tanya  pak penghulu. Pertanyaan yang membuat semua tamu undangan di ruang itu ikut bertanya-tanya.

“E e e  sebentar, Pak. Kita tunggu saja. Mungkin sedang dalam perjalanan.” Jawab Seruni santai, terkesan tak ada apa-apa. Dan waktu kian menjalar mengantar terik namun tetap tak ada kabar. Pak penghulu tak bisa berlama-lama menunggu karena punya jadwal acara pernikahan di desa lain.

“Maaf, saya tidak bisa menunggu lama, sudah satu jam saya di sini. Saya harus pergi ada urusan yang harus saya selesaikan.” Kata pak penghulu.

“Tunggu Pak, sebentar lagi pasti datang. Mungkin sekarang dalam perjalanan. Saya akan coba hubungi.” Ditekannya dengan tergesa tombol HP. Tak ada sahutan selain suara operator yang menggelitik telingganya

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.” Dicobanya sekali lagi, suara operator terdengar lagi. Membuat degup jantungnya kian tak beraturan.

“Bagaimana?” Tanya pak penghulu.

“Tidak aktif.”  Suaranya berat, seluruh ruang dadanya terisi resah. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak baik pada calon suaminya.  Tamu undangan di ruang ijab kabul  saling berpandangan dan bertanya-tanya.

“Kalau begitu, saya pamit. Saya tidak bisa menunggu lama. Saya sudah ditunggu.” Kata pak penghulu.

“Itu dia! Calon suami saya sudah datang, Pak.” Kata Seruni saat di telikung jalan, dilihatnya mobil hitam mewah menuju halaman rumah.

Kekhawatiran Seruni berangsur reda. Rasa lega mulai mengisi rongga dada. Mobil berhenti. Seruni berlari menyambutnya. Berhenti tepat di depan pintu mobil. Seruni ingin cepat-cepat bertemu lelaki idaman, calon suaminya dan menyelesaikan acara ijab kabul mereka. Pintu mobil terbuka, calon suaminya tak ada di sana. Hanya seseorang tak dikenal berdiri angkuh di hadapannya. Membuat hatinya bertanya-tanya.

“Saya hanya mengingatkan, jangan sekali-kali mengganggu kehidupan rumah tangga saya!”

“Siapa kamu?!” Tanya Seruni yang masih kaget dengan kedatangan seseorang yang tak dikenalinya itu.  

“Saya istri Kartono!” Kata perempuan itu tegas lalu  melempar senyum kecut.

Seketika jantung Seruni terasa tak berdetak, nafasnya sesak, darah seakan berhenti mengalir, keringat dingin bercucuran. Pandangan di sekeliling gelap. Dan hanya gelap! Selebihnya ia tak merasa apa-apa. Sejak kejadian itu, Seruni mengalami depresi. Berkali-kali mencoba bunuh diri tapi selalu gagal mati. Rasa malu dan rasa kecewa membuat kejiwaannya tertekan. Jika saja Seruni  jeli. Jika saja Seruni mampu menimbang-nimbang perkara cinta yang datang, mungkin saja ia tidak akan terjebak pada cinta yang retak retak !


Inung Setyami, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Borneo Tarakan Kalimantan Utara. Menulis cerpen, esai dan puisi. Menjuarai beberapa lomba sastra. Buku karyanya antara lain: Melankolia Bunga-Bunga (cerpen, 2021), Distikon Rasa (puisi, 2021), Kisah Si Rawit (novel anak, 2021) dan lain-lain


***----------***



Pesan Ayah

Cerpen Okti Setiyani

 

            “Ivan…” gumamku melihat penampakan teman lama yang terpampang nyata di kursi seberangku. Memang benar bahwa sekarang ia sangat terkenal. Banyak yang ternganga apabila melihat tampangnya wara-wiri di berbagai channel televisi, termasuk aku. Dibalut baju oranye, ia tampak seperti jeruk jepun yang menggelembung dan sukar dikupas. Ia berjalan dengan kawalan banyak orang, bertemu banyak penjabat, diwawancarai sana-sini dan banyak kamera yang mengincar berbagai posisi duduknya. Namun itu tak patut untuk dibanggakan apalagi diagung-agungkan.

            Aku ingat betul siapa pria gempal itu – salah satu temanku yang sedari kecil pandai, teliti, pantang menyerah, dan konsisten dalam dalam bidang penyontekan. Jujur saja aku tidak menyangka kalau ia melanjutkan bidangnya itu sampai sekarang.

***

            Pagi itu aku sudah mempersiapkan diri dengan baik – belajar, belajar dan belajar. Namun, entah mengapa aku selalu saja ingusan atau batuk berdahak di saat-saat penting – salah satunya Ujian Nasional. Mungkin faktor ketegangan membuat lendir-lendir dalam tubuhku bergejolak dan beginilah akhirnya. Tanganku dingin dan berkeringat. Perutku juga bergejolak, menghasilkan gas-gas buangan yang tidak menyenangkan, kentut.

Sungguh sangat tidak nyaman. Seragam yang aku pakai masih merah-putih dan itu pun kedodoran. Mungkin saja orang tuaku menyangka kalau aku akan tumbuh dengan cepat di sekolah dasar, nyatanya tidak. Tubuhku kurus dan tak berotot, sangat cocok menjadi bocah cupu yang akan dimintai kunci jawaban. Aku mungkin termasuk murid yang tidak terlalu pandai, tetapi cukup rajin belajar sehingga tetap bisa masuk sepuluh besar di sekolah dasar.

Seperti biasanya, gerombolan anak-anak yang pandai sekaligus rajin dalam hal menyontek datang bersama-sama. Mereka didominasi oleh anak-anak dengan postur tubuh tinggi, tegap atau gempal, juga tampang sangar. Sepuluh menit sebelum bel masuk ujian, mereka pasti akan mewanti-wanti anak lainnya untuk memberikan kunci jawaban ujian. Salah satu anak yang menjadi incaran mereka adalah aku.

            “Andri....” ujar Ivan sambil menunjukku dari ambang pintu kelas.

            Aku menoleh dan menatapnya biasa, lalu melanjutkan kegiatan membacaku. Aku duduk dengan tenang di sebuah meja kayu dengan banyak coretan tip-x di atasnya – meja di barisan ke dua dari belakang. Ya, meja itu selalu aku temui di setiap simulasi ujian yang dilakukan. Ada gambar Naruto hingga seluruh penduduk Konoha yang dilukis dengan pulpen hitam, sungguh berseni – terkadang membuatku tidak fokus membaca soal karena melihat begitu rumitnya gambar di meja itu.

LJK, kertas soal, pensil runcing, penghapus, penggaris dan papan, sudah siap di depanku. Tinggal menunggu waktu, mereka akan bekerja dengan kerasnya. Sejurus kemudian bel berbunyi, tanda waktu ujian dimulai. Rasa percaya diriku tumbuh saat melihat soal-soal di hadapanku terasa tidak asing. Ya, mungkin karena aku sudah cukup belajar tadi malam dan doa ibuku.

Sepuluh menit berlalu dengan khusyuk. Sayangnya suasana itu tidak bertahan lama. “Andri!terdengar suara serak yang tidak asing, tentu berasal dari pita suara seorang manusia berbadan gempal dan berkulit sawo matang, Ivan. Kuteguhkan pendirian dan mengingat pesan Ayah.

            Mejaku berada di barisan ke dua dari belakang, sangat strategis untuk menjalankan misi bukan? Kulirik pengawas ujian. Ia bak paku payung, berbadan kurus dengan rambut hitam yang menyerupai jamur merang. Baru beberapa menit, perempuan muda itu hampir terjungkal dari kursinya karena saking mengantuk. Haruskah kubuat keributan, membanting kursi atau menjungkirbalikkan meja agar pengawas memelototi kami, dan akhirnya suasana akan kembali khidmat.

            “Andriiiiiiiiiiiiiiii…” Suara Ivan lagi-lagi memenuhi gendang telingaku. Kucoba memasukkan udara sebanyak-banyaknya ke paru-paru, berharap agar aku memiliki kesabaran tingkat tinggi. Hingga aku tidak melakukan hal-hal yang tak diinginkan, menjungkirbalikkan meja misalnya.

            Saat sedang khusyuk menguatkan hati. Sebuah benda yang kutebak remasan kertas menyambar kepalaku tanpa ampun. “Astaghfirullah…” gumamku.

            Sandi rumput, sandi morse hingga bisikan maut berlalu lalang dari arah depan, samping dan belakang. Benar kata Ayah, bahwa setan tidak bisa menggoda kita dari arah atas, ternyata ini yang dimaksudnya. Ups, apa aku baru saja mengakui bahwa kawan-kawanku adalah… eum.

***

“Ingat pesan Ayah, kejujuran itu nomor satu, Nak…” ucapnya puluhan  tahun lalu dengan penuh wibawa. Saat aku masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Dan pesan itu menghantarkanku di sini, duduk dihormati, mengadili kasus salah satu kawan lama. Sedangkan Ivan, duduk di bangku terdakwa dengan segala ketenaran yang memalukan, pemakan uang negara, koruptor.

Itulah pesan Ayah yang  selalu kuingat, walaupun ia tak lagi bersamaku. Namun dengan pesan tersebut, seakan Ayah masih selalu membersamaiku, sepanjang hayat.

 


Okti Setiyani
, lahir pada 1999, saat ini menempuh pendidikan  di UIN Sunan Kalijaga. Hobinya menulis, membaca, memukul, menendang dan mengkhayal. Dalam tiga tahun kiprahnya di dunia literasi, ia sudah menerbitkan satu novel  dan beberapa antologi cerpen dalam kompetisi menulis. Apabila masih kepo dengan manusia yang satu ini, bisa hubungi Instagram okti_setiyani08 atau email oktisetiyani1999@gmail.com


                                                             


                                                            ***----------***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  K A R Y A     AHMAD MALIKI MASHAR     Suluh Penyuluh   Mulut berbisa mengurut luka Menepuk dada tersuruk bangga Berlulur s...