Senin, 26 Juli 2021

K A R Y A

EVA NURUL KHASANAH

 

 

Tak Kaulihat Lagi

 

Tak ada degup yang mendebar

aku kehilangan separuh jiwa

langkah kaki sang guru makin samar,

tak terdengar.

 

Suara yang perlahan hilang

membawa separuh lagi jiwaku,

raga ini kosong.

 

Tolong, tolong kami!

Dua tahun tanpa guru bukan mainan

bukan guyonan,

Jika tak segera pertolongan datang,

beserta raga ini kami akan hilang.

 

Sedang apa yang kami miliki, dikuasai

mungkin musnah tanpa arti?

 

Para pemilik hati, hari ini atau lusa

mungkin saja tak kaulihat lagi

manusia berjalan di muka bumi ini.

 

Yogyakarta, 23 Juli 2021

Eva Nurul Khasanah, lahir di Kulonprogo 1 Juni 1999, mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Uiversitas PGRI Yogyakarta. Sejumlah karyanya dimuat media massa maupun buku antologi bersama.  Puisinya yang berjudul “105 Kata untuk Mimpi-Ku” meraih juara 3 pekan jurnalistik di kampusnya. Tinggal di Lendah Kulonprogo.

***----------***

  

 

H A Y Y A

 

 

Diri Sendiri

 

Rasa yang sakit pada kondisi

Hati selalu diam mengingkari

Mata memejam menghayati

Akankah diri akan menjuluki?

 

Begitu tak banyak mimpi

Susah bangun untuk berhenti

Kaki tak lagi menapaki

Akankah semua ini, bisa kuingkari?

 

Daksa dan qalbuku selalu membohongi

Bahwa keadaan baik hanya afiksasi

Kenapa harus menciptakan ilusi?

Jika hati tetap dalam berapi?

Aku ingin mengakhiri, lalu berdikari

 

Setiap hari hati dinasehati

Logika terus diterangi

Tapi gaya tubuh, selalu membohongi

Dan diri terus berjalan melalui

 

Akan dinginnya pada diri

Rasa kian terus menjalari

Dan pada akhir hari

Aku menjadi diri sendiri

 

 


Hayya,  lahir di Bogor pada tanggal 16 Agustus. Gadis yang mengagumi senja dan bintang di langit malam. Karyanya tersiar di buku antologi bersama Memeluk Renjana, Pendar Cinta di Cakrawala, dan Perihal Rasa. Ingin tahu lebih jauh tentang dirinya? Follow Instagram @nr_hy08.

 

 

***----------***

 

KEMAT MARTOIRONO

 

 

Air yang Tenang

 

Egoku melarangku

Nyataku memang begitu

Pikiranku menjelajah negri

Bertemu hutan rimba yang tak pasti

Binatang ganas yang siap menggilas

 

Belum lagi  syetan selalu mengibarkan permusuhan

Akan terpengaruh bagi yang tidak waspada

Apalagi macam-macam dedaunan rimbun menarik perhatian

Membingungkan bagi yang baru awal perjalanan.

 

Biasa saja bagi yang terbimbing

Karena selalu membawa peta yang selalu dibaca

Dan sudah akrab dengan para Dewa

Senyuman manis tanda syukur dan bahagia.

 

Yogya, 25 juni 2021


Kemat Martoirono, jebolan UIN Sunan Kalijaga. Pernah menekuni berbagai bidang pekerjaan: buruh, petani, pedagang, pendamping budaya. Beberapa puisi pernah dimuat laman Sastra-Ku dan buku Kluwung Lukisan Maha Cahaya. Saat ini tercatat sebagai imam besar di masjid dusun Kwarakan, Sidorejo, Lendah.

 

 ***----------***

 

 

JENG ROSE

 


Pilu Sembilu

 

Pilu.......

Pilu sembilu dalam hatiku

Bagai tusukan duri-duri tajam menghujamku

Jalan berkelok dan penuh batu

 

Seperempat abad perjalananku berlalu

Tak pernah lepas dari perihnya sembilu

Pilu dan pilu menyertai langkah kakiku

 

Aku pasrah tapi tak menyerah

Air mata dan peluh yang bersimbah

Mengantarku untuk selalu berserah

Bersujud dan menyembah

Hingga pilu sembilu tak akan lagi singgah

 

Gisiking Progo, 2021

 

Jeng Rose, kesehariannya mengabdi sebagai pengajar di SDN 2 Pandowan Galur KP. Prestasi di bidang sastra:  Juara I Lomba sesorah antar Guru SD se Kabupaten Kulonprogo (2017), Juara I lomba penulisan cerkak Tingkat Kabupaten (2018). Juga menggeluti bidang seni tari, karawitan dan kethoprak.

 

***----------***

 

 

========

 

Edisi kali ini laman Sastra-Ku juga memuat puisi karya peserta bimtek cipta puisi yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo pada bulan Maret lalu.

 

========

 

AHMAD HIBBAN AR

 

 

Malam Takbiran

 

Ku kira malam ini istimewa

Ternyata masih sama seperti malam sebelumnya

Diwarnai kedinginan, kesedihan, dan suara Ambulan

 

Ya Suara Ambulan

Lagi-lagi suara ambulan yang lalu lalang

Menimbulkan kecemasan dan kepanikan

Tak adakah suara bedug yang ditabuh?

Kemana hilangnya semua suasana takbiran?

 

Atau mungkin semua orang lupa?

Sehingga aku harus mengumumkanya ke penjuru telinga?

"Sodara-sodara sekalian

Malam ini malam hari raya

Mari kita sama- sama bergembira!

Kumandangkan takbir di seluruh masjid dan mushola!

Dan tabuh semua bedug yang ada! ''

Tapi itu semua tak akan terjadi

Sebab malam ini masih dikuasai pandemi.

 

Kulonprogo 2021

 

Ahmad Hibban Aunur Rahman, peserta bimtek cipta puisi yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo, pernah juara pertama lomba baca geguritan (Disbud KP, 2020) dan juara kedua lomba baca puisi (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KP, 2021). Siswa SMP N 4 Wates Kulonprogo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  K A R Y A     AHMAD MALIKI MASHAR     Suluh Penyuluh   Mulut berbisa mengurut luka Menepuk dada tersuruk bangga Berlulur s...