Minggu, 18 Juli 2021

K A R Y A

 

M A R W A N T O

 

 

 

 

Duka Tak Lagi Abadi

 

 

tuan Sapardi

di hari  yang penuh hablur

izinkan aku mendoakan lewat puisi

semoga dipanjangkan nikmatnya kubur

 

setahun sudah tuan kembali

ke pelukan yang maha tinggi

kini saatnya aku minta ridamu

untuk meraih puisimu-puisimu

yang menggantung di langit mimpi

 

lalu, izinkan aku

menanam puisi-puisimu

di ladang dan halaman rumah

hingga suatu saat entah

kupanen untuk anak cucu

agar jiwa-raga tetap padu

 

--dan, duka tak lagi

 abadi

 

Wisma_Aksara, Juli 2021

 

 

 

Marwanto,  menulis esai, puisi dan cerpen di sejumlah media cetak/online, baik lokal maupun nasional. Buku karyanya antara lain: Kado Kemenangan (cerpen, 2016), Demokrasi Kerumunan (esai, 2018), Hujan Telah Jadi Logam (cerpen, 2019) dan Menaksir Waktu (puisi, 2021). Karyanya juga tesiar di sekitar 30  buku antologi bersama.  Tinggal di Jalan Kiai Bathok Bolu Wahyuharjo  Lendah Kulonprogo.

.

***----------***

 

 

 

DWI RISWANTO

 

 

 

Pujangga Sejati

 

 

Sepertinya baru kemarin engkau pergi

Ternyata sudah setahun tinggalkan kami

Tanpamu..., tahun ini "hujan bulan Juni"

meraung seorang diri

Meratap sepi, menyisakan sunyi

 

Kini dan nanti

Tak kan kulihat lagi,  

Topi pet cokelat yg selalu tersemat

Menghiasi saat kau larut lantunkan puisi

 

Sampai saat ini

Tak bisa kutemukan lagi

Cara lain "mencintai dengan sederhana"

Mereguk mesra "sajak kecil tentang cinta"

 

Dan sekarang

Aku hanya bisa mengenang

Kau yg telah berpulang

Jiwamu terbang menghilang

Menembus "cakrawala"

Yang tuntas "kau tebas jaraknya"

Hari-harimu sudah berlalu

Ragamu kembali ke bumi, karyamu membumi...

Karena "yang fana adalah waktu, kita Abadi"

 

 

Yk, 19 Juli 2021

 


Dwi Riswanto S,
alumni UGM Yogyakarta. Penyuka puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ini adalah seorang pustakawan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kulonprogo. Karyanya menghiasi sejumlah media cetak/online dan buku antologi bersama. Tinggal di Bantul Yogyakarta.

 

 

***----------***

 

 

 

SANTI ASESANTI

 

 

 

 

Tentang Juni

 

 

Aku kembali terjebak pada "Hujan Bulan Juni"

Setelah sekian lama rintik bersemayam di gulungan mendung

Namun di Juni ini

Rintik perlahan menderas mengecup tanah kerontang

Dan aku merasa kembali pada rindu yang tumbuh di bulan Juni

 

Ketika kuyup merekah

Kau sedang duduk di depanku

Mengunjungi gubuk sunyiku yang lama kau biarkan berdebu

Lalu dari matamu yang (dulu) penuh rahasia

Telah kusingkap bunga rasa

Baurkan aroma kasih

Resah berguguran

kuburkan diri di lahan ingatan

 

Inikah yang kau simpan di musim-musim yang lalu

 

Pelangi_Kata, 180618

 

 

Santi Asesanti, nama pena dari Fajri Susanti, lahir di Kulonprogo 1982. Puisinya masuk di sejumlah buku antologi bersama, diantaranya Cerita Hujan dan Bintang (2015), Dalam Secangkir Kopi (2016), Kedai Kopi Sastra (2019), Kluwung Lukisan Maha Cahaya (2020), Tanah Air Puisi (2021) dan Duhkita (2021). Antologi puisi tunggalnya, Purnama Bulan November (2020) dan Lorong Ingatan(2021). Tinggal di Wates Kulonprogo.

 

 

***----------***

 

 

 

========

 

Edisi kali ini laman Sastra-Ku juga memuat puisi karya peserta bimtek cipta puisi yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo pada bulan Maret lalu.

 

========

 

 

YASIN MANIK HAWA

 

 

 

G u l i t a

 

 

 

Netraku terbelalak dari butanya,

Ternyata sama saja, gulita masih merajainya.

Pelan, langkah hati bangkit menjelajah gulita.

Kupikir berdetak, ternyata sunyi sekali ekspedisi kegelapan ini.

Ribuan tanya kuteriakkan mengusir kesunyian diri.

Adanya hanya gaung terngiang,

tak menjawab segala ragu di hati,

Adanya hanya penjaga malam,

tak mampu usir sunyi,

Adanya bayangan hadirmu, masih tak nampak,

samar pun tak tunjukkan tanda.

Adakah masalah darimu wahai sang Arif?

Adakah jawab kemana harusnya kalbu ini berpijak?

 

coretan mikha

Kulon Progo, 1 Juli 2021

 

 

Yasin Manik Hawa (biasa dipanggila Hawa), lahir 17 tahun lalu di Kulon Progo 11 Desember 2003, pelajar di SMAN 1 Sentolo. Menyukai musik dan tanaman. Minat menulis puisi sejak masuk SMA, terlebih dengan mengikuti Bimtek Cipta Puisi kategori SMA pada Maret lalu, membuatnya ingin mempelajari puisi lebih dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  K A R Y A     AHMAD MALIKI MASHAR     Suluh Penyuluh   Mulut berbisa mengurut luka Menepuk dada tersuruk bangga Berlulur s...