Jumat, 02 Agustus 2019

KARYA

PUISI WAHYU PURWADI


Jembatan Bantar

Desember 1948 yang lalu
Kala korban berjatuhan
Darah mengalir tak karuan
Bajamu kokoh  menahan pilu
Hanya diam dan membisu

Agresi belanda merenggut nyawa
Jiwa sahid menjadi suhada
Rumah hangus menggusur segala
Jembatan Bantar kaulah saksinya
Kini ada dan terlupa

Yogyakarta 2019

 ***-------***


PUISI DWI MULYANINGSIH 


Hanya Suara


Ibu pertiwi…
Kau terlelap bagai laut kehilanagan ombak
Burung-burung yang semula bebas di hutan
Digiring ke sangkar-sangkar
Tak bebas mengucapakan kicaunya

Hingga 17 agustus 1945
Sang proklamator teriak lantang merdeka
Negerinya terlepas dari kejam nya penindasan
Tanah surga nya kembali di pelukan ibunda

Meskipun begitu
Suara merdeka itu kini hanya sebuah suara
Juataan orang lapar tuan
Mereka lelap beralaskan tanah
Dan beratapkan langit merah
Mereka jua berhak berselimutkan sutra

Tuan bilang bangsa kita telah merdeka
Biarpun hasil bumi melimpah
Namun negeri kita masih terjajah
Budaya asing penuhi negeriku
Generasi bangsa tak lagi lestarikan budaya



  ***-------***



PUISI EKA FAID TAQIY



Ksatriyaku

Dua dasawarsa 
Disini didekatku
Menjadi nafasku

Gelap terang kita  bersama
Tangis tawa merasuk sukma
Hilang sudah lelah dahaga
Segalanya terasa dunia hanya milik kita

Kini tiba saatnya
Anak panah melesat dari busurnya
Gendewa yang direntangkan dengan kuat
Harus dilepaskan dengan ikhlas

Larilah, melesatlah bagai ksatriya di medan tempur
Tembuslah dada musuh tanpa kenal mundur,
kalahkan mereka dengan mata panahmu
Tunjukkan padaku  bahwa kamu mampu



 ***-------***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  K A R Y A     AHMAD MALIKI MASHAR     Suluh Penyuluh   Mulut berbisa mengurut luka Menepuk dada tersuruk bangga Berlulur s...