Jumat, 09 Agustus 2019

KARYA



Mbah Gin
Cerpen:  Imam Wahyudi




Tiba-tiba saja Mbah Gin mengutarakan keinginannya untuk berkurban pada tahun ini. Aku yang duduk disampingnya, setelah kelelahan mengawinkan kambing betinaku dengan Si Bagong, kambing jantan milik Mbah Gin, seperti tak percaya dengan niatan perempuan tua itu. Selama ini ia abai dalam hal agama, kewajiban lima waktu pun tak pernah kulihat ia tunaikan.
“Benarkah hewan yang kita kurbankan itu kelak akan menjadi kendaraan kita menuju surga, Mam?” sambil mengunyah sirih, Mbah Gin melontar tanya padaku.
“Wah, aku tak paham soal itu, Mbah. Takut salah nanti. Mending sampeyan tanya ke Kaji Dolah saja yang paham ilmu agama. Kalau menurutku, segala amal kebaikan itu, asal ikhlas hanya mengharap ridha-Nya, insyaallah akan menolong kita di akhirat kelak,” jawabku sambil menyeruput teh kental yang ia suguhkan.
“Aku malu, Mam. Selama ini kakiku tak pernah menyentuh langgar1) Kaji Dolah.  Aku belum bisa sholat dengan lancar. Tetapi melihat orang-orang berkurban, entah mengapa, seperti ada yang membisikiku untuk turut serta berkurban. Mungkin karena aku sudah tua, ajalku makin dekat, aku jadi ingat Tuhan…,” lanjut perempuan berambut putih memplak2)  karena uban, bernama lengkap Soginem itu.
“Tak ada kata terlambat, Mbah. Gusti Allah itu Maha Tahu. Sebelum nyawa lepas dari raga, pintu ampunan selalu terbuka. Kaji Dolah pasti senang bila Mbah Gin mau datang ke langgar. Terus Mbah Gin mau kurban apa? Nanti sekalian aku sampaikan ke panitia?”
“Si Bagong akan aku kurbankan,” jawabnya mantap.
“Ha? Si Bagong, Mbah?” aku terkejut.
“Ya, Si Bagong. Teman setiaku ini,” ujarnya kemudian, sambil tertatih bangkit lalu mengelus kambing jantan itu.
Mbah Gin memelihara beberapa ekor kambing, tetapi perlakuannya kepada Si Bagong adalah lain. Kambing Jawa berwarna putih dengan  lingkaran hitam di sekitar dua mata, seperti memakai kacamata itu, dulunya adalah hasil persilangan dengan kambing bibit unggul yang dilakukan oleh Mbah Truno, suaminya yang beberapa tahun lalu telah pergi mendahului menghadap yang Maha Kuasa. Si Bagong tumbuh menjadi pejantan yang besar dan kuat. Banyak kambing betina di daerah ini dikawinkan dengannya. Dari situ, terkadang Mbah Gin juga memperoleh penghasilan sekedarnya sebagai balas jasa. Saking sayangnya, Si Bagong tidak ditaruh di kandang  bersama kambing lainnya, tetapi diikat di pawon3) yang dari dulu tetap dibiarkan berlantai tanah. Perempuan tua itu juga lebih banyak tidur di pawon dengan ranjang reot yang ia letakkan di situ. Tentang hal ini, Mbah Gin beralasan untuk jaga-jaga, takut Si Bagong dicuri. Banyak orang mengincar kambing itu, tetapi tak ia lepaskan berapapun harganya. Melihat Si Bagong, Mbah Gin akan teringat terus dengan almarhum Mbah Truno yang puluhan tahun hidup bersamanya, dalam banyak peristiwa suka maupun duka walau tiada dikaruniai keturunan sampai mereka dipisahkan oleh maut.
“Baiklah, Mbah. Nanti kusampaikan kepada Kaji Dolah sebagai ketua panitia kurban,” kataku kemudian sambil menghela kambing betinaku pulang. Ada rasa haru bercampur salut di hatiku melihat niat mulia Mbah  Gin tersebut.
***
Pagi itu mendadak gempar. Mbah Gin yang baru saja pulang dari langgar — sekarang ia rajin ke langgar, paling tidak waktu Maghrib dan Subuh—mendapati pintu pawonnya terbuka. Si Bagong tidak ada di tempat. Orang-orang berdatangan ke rumah Mbah Gin.
“Padahal waktu saya ke langgar, Si Bagong seperti biasa, tenang dan tidak gelisah. Memang pintunya tidak bisa dikunci dari luar, tetapi tetap saya tutup,” ujar Mbah Gin.
“Menjelang Idul Adha, memang rawan pencurian ternak, Mbah. Apalagi Si Bagong juga merupakan kambing yang sudah poel4), cocok untuk hewan kurban, pasti banyak yang mengincarnya. Tetapi jangan berpikir buruk dulu, mungkin kambing itu lepas terus ngelayap cari makan, biar nanti warga saya suruh mencarinya. Yang penting Mbah Gin tenang dulu. Si Bagong sudah diniatkan untuk kurban, pasti Gusti Allah punya rencana terbaik untuk itu,” Kaji Dolah yang datang ke lokasi ikut menenangkan Mbah Gin.
Mbah Gin syok berat, ia tak menyangka Si Bagong akan menghilang begitu saja. Seharian tetangga kiri kanan ikut membantu mencari ke penjuru desa, bahkan hingga ke pasar hewan di luar desa, siapa tahu Si Bagong sudah diperdagangkan di situ, tetapi tetap saja tak ditemui jejaknya. Demikian, hingga beberapa hari kemudian orang-orang mulai lelah melacak keberadaan kambing itu dan perlahan melupakannya.
Aku sungguh mengkhawatirkan kondisi Mbah Gin. Sejak peristiwa itu ia begitu murung, tak menampakkan wajah cerah seperti biasanya. Setiap hari hanya mengurung diri di rumah, sering kali pula dalam tidurnya ia mengigau memanggil-manggil Si Bagong. Aku yang merasa iba, setiap hari menjenguknya, terkadang bersama istri atau juga anakku.
***
“Aku bermimpi Si Bagong pulang,” pagi itu Mbah Gin berkata kepadaku. Aku hanya tersenyum dan mengangsurkan makanan yang kubawa kehadapannya.
“Benar, Mam. Mimpi itu seperti nyata. Aku yakin Si Bagong bakal pulang,” kembali ia berusaha meyakinkanku.
Mendadak, suara riuh terdengar dari kandang kambing di belakang rumah. Aku berlari menghampiri sumber kegaduhan itu. Aku terperanjat bukan kepalang. Benar yang dikatakan Mbah Gin, kulihat di kandang itu Si Bagong mengembik sambil mengejar-ngejar beberapa kambing betina. Mbah Gin yang kemudian kuberitahu, begitu sumringah dan berkali-kali mengucap syukur sembari menghambur ke kandang.
Beberapa waktu kemudian, terdengar kabar dari desa sebelah tentang seseorang yang terluka parah karena diseruduk hewan-hewan piaraannya. Entah bagaimana sebab musababnya, hewan-hewan itu bisa mengamuk dan melukai si empunya. Konon, orang itu adalah maling ternak yang  malang melintang di kawasan ini. Mungkin Si Bagong terlibat dalam kejadian itu, aku tak tahu pasti, yang penting ia sudah pulang dan niat Mbah Gin untuk berkurban tahun ini bakal terlaksana.
***
Takbir berkumandang. Sholat Idul Adha baru saja usai. Saatnya acara penyembelihan hewan kurban dilaksanakan di area sekitar langgar. Warga berkumpul untuk menyaksikan sekaligus melaksanakan penyembelihan tersebut, dipimpin langsung oleh Kaji Dolah.
Si Bagong tampak gagah bersanding dengan hewan kurban lainnya. Mbah Gin, sebagai orang yang turut berkurban hadir pula di situ. Namun, sebenarnya ada yang aku khawatirkan dengannya, selain kondisinya yang kurang sehat, ia juga takut melihat darah. Kemarin ia menceritakan mimpinya, membuat diriku makin ketar-ketir.
“Mam, aku bermimpi indah sekali, dan itu seperti nyata. Si Bagong datang padaku, ia tampak begitu gagah, mengantarku meniti shiratal mustaqim5) menuju surga. Ah, di sana ternyata Kang Truno sudah menungguku dengan wajah berseri-seri. Aku terbangun waktu Azan Subuh, terus berangkat ke langgar lalu bersujud disana….”
Dan sesuatu yang aku khawatirkan itu terjadi juga. Melihat darah keluar dari kambing yang disayanginya, Mbah Gin jatuh pingsan. Sesaat terjadi kepanikan, Mbah Gin digotong ke rumah Kaji Dolah, rumah terdekat dari area langgar.
Mata Mbah Gin terpejam, ia seperti tidur nyenyak sekali. Lama ia tak sadarkan diri. Kaji Dolah kemudian ikut membantu menyadarkan Mbah Gin dengan berbagai cara. Namun ia tak kunjung bangun juga. Aku makin khawatir. Menjelang Azan Dzuhur, tubuh perempuan tua itu baru bergerak-gerak. Aku dan Kaji Dolah mengucap syukur.
***
Kini, jika kau berkunjung ke dusunku, dan kebetulan waktu sholat tiba, datanglah ke langgar itu. Kau akan memasuki sebuah langgar kecil namun terlihat bersih dan rapi. Suasana sejuk dan tentram terasa sekali. Di sana akan kau temui seorang perempuan tua namun masih terlihat gesit dan sehat sedang khusyu berdzikir di antara kesibukannya merawat dan membersihkan rumah Tuhan tersebut. Dari kejauhan tempat itu seperti bercahaya●
Kulonprogo,  Agustus 2019
catatan:
1)      langgar: surau. musala
2)      putih memplak: putih semua (sangat putih)
3)      pawon: dapur
4)      poel: nama yang diberikan masyarakat untuk kondisi gigi hewan ternak yang menunjukkan telah cukup usia dijadikan qurban
5)      shirathal mustaqim: frasa dalam Surat Al Fatihah yang secara harfiah memiliki arti “jalan (yang) lurus”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  K A R Y A     AHMAD MALIKI MASHAR     Suluh Penyuluh   Mulut berbisa mengurut luka Menepuk dada tersuruk bangga Berlulur s...