Sabtu, 22 Januari 2022

 

K A R Y A

 

SULTAN MUSA

 

 Sorai Berhembus  Pada Laut

; catatan  kecil seorang  lelaki  pelaut

 

Tersimpan banyak sabda

Menyapa erat di sukma

Menyatu tanpa suara

Merangkul kabut rasa

Seakan mengajak bicara

 

Terlihat ruang lega

Menyelipkan sayup damba

Walau menahan lelah curiga

Bersimbah angan tak berdaya

Derap gelap menyisakan hampa

 

Hangatnya  kadangkala  mengunyah  nelangsa

Menyusuri  berapi – api  terbuai  warna

Setidaknya  ada  yang  terbaca

Walau  semu  membeku  di raba

Menggerutu  tak  kunjung  jumpa

 

Tak  pernahkah ada

Ternyanyikan  perapian  nada

Bahwa, di laut  banyak  tersimpan doa

Bertalian  pada  satu  nama

Kepada  Ilahi  Sang  Maha  Penguasa

 

#2021

 

SULTAN MUSA berasal dari Samarinda Kalimantan Timur. Tulisannya tersiar diberbagai platform media daring & luring. Karya tunggalnya "Candramawa"(2017), "Petrikor"(2019), "Sedjiwa Membuncah"(2020) & versi e-book "Mendjamu Langit Rekah" (2020), terbaru di 2021 "Titik  Koma".

 

 

*****______*****

 

 SUYATRI YATRI

 

Pahitnya Bibir Rasa Kopi

 

Dalam sekam,

menikam

duka hadir diam-diam.

Secangkir kopi tanpa gula

mengental kepahitan

Dalam dekap yang senyap meresapi setiap tetes pahitnya

 

 

Tajam menghujam pisau-pisau menancap dalam gelap

Disesap rindu menguap bisa dari aromanya

Isak pun nyalakan api keprihatinan

Dan di tungku perapian, cangkir kopi mendidih sesuka hati

Dengan entengnya ia berkata

"Pahit itu takdirmu maka jangan meminta gula"

 

 Hening teraduk mengambang ampas hitam

Pori tercabik menjadi air mata penderitaan

dan robusta masih saja panas menggoda

Minta secicip manis sebagai tanda bahagia

Tapi masih saja menampar dinding besi yang basi

"Ampas kopi pantas untuk sampah sepertimu,"

 

Bibir beracun sianida semakin tajam membuat luka

Mencoba menetralisir jiwa dengan kata ikhlas atas kepahitan dunia

 

Rokanhulu, 10102020

 

Suyatri Yatri, lahir di Padang Siminyak 24 Agustus 1979. Berasal dari Pagaruyung Batusangkar Sumatera Barat. Berdomisili di Rokan Hulu Riau. Bekerja sebagai guru di SMP Negeri I Rambah Rokan Hulu Riau. Tutor di PKBM Damai Sejahtera Ujungbatu. Aktif dalam gerakan pegiat literasi Rokan Hulu. Karyanya berupa puisi dan cerpen banyak di muat tersebar di media cetak dan online. Karya tunggalnya yang terbaru adalah kumpulan puisi Mendulang Nusantara (Pusaka-Ku, 2021 ).

 

 

*****_____*****

 

 LATIFAH JAHRO

 

 Hilang

 

Langkah-langkah kaki yang terdengar

Kemudian hilang

Gelak tawa yang terdengar

Kemudian hilang

Senyum indah yang terpancar

Kemudian hilang

 

Hangat genggaman yang terasa

Kemudian hilang

Pelukan manja di dada yang terasa

Kemudian hilang

Wajah indah yang mempesona

Kemudian hilang

 

Hilang...

Hilang...

Hilang...

Semua tak kan pernah kembali padaku

Jalan pulang ditelan waktu

 

(2020)

 

Latifah Jahro, lahir di Kulonprogo, 22 Desember 1992. Pendidikan terakhirnya adalah S1 pendidikan Bahasa Jawa. Kesehariannya adalah guru Bahasa Jawa di SMA N 1 Wates. Tulisannya pernah di majalah  Djaka Lodang. Karyanya juga masuk di buku Tilik Wewisik (Antologi Geguritan Dinas Kebudayaan DIY), juga menghiasi laman Sastra-ku dan  latifahpancanakauny.blogspot.com. Tinggal di Kokap Kulonprogo.

  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  K A R Y A     AHMAD MALIKI MASHAR     Suluh Penyuluh   Mulut berbisa mengurut luka Menepuk dada tersuruk bangga Berlulur s...